astronot itu bernama ojol

Disclaimer :

Tulisan ringan yang mungkin akan sulit dipahami dan membingungkan, bisa jadi disebabkan oleh kemampuan menulis yang terbatas, harap maklum.

Beberapa minggu lalu kita sama-sama dengar berita demonstrasi yang  membuat saya berpikir apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan ojol atau ojek online?.  Mereka yang sudah sedemikian dekat dengan keseharian kita dan mengajarkan saya arti dari kekuatan teknologi dalam membantu peningkatan pendapatan secara gamblang jauh lebih jelas dari guru dan literatur ( timeline termasuk gak ya? )  manapun . Pengentasan kemiskinan dalam artian luas lho ya, tak hanya para petinggi gojek, grab, pemegang saham, investor, mitra ojol, kita sebagai konsumen ojol juga ikut menikmati potensi naik kelas dengan mendapatkan pilihan transportasi publik (walaupun belum diakui secara resmi) yang (relatif) lebih murah sehingga kita bisa menabung dan (mungkin)  bisa ikut naik kelas. Secara umum dari berita di media saya simak ada 3 (tiga) tuntutan utama mereka yaitu :

  1. Meminta pengakuan legal eksistensi, peranan dan fungsi ojek online sebagai bagian dari sistem transportasi nasional.
  2. Menuntut penetapan tarif standar dengan nilai yang wajar yaitu Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per kilometer, dengan metode subsidi dari perusahaan aplikasi agar tarif bagi penumpang tetap murah dan terjangkau.
  3. Menuntut perlindungan hukum dan keadilan bagi ojek online sebagai bagian dari tenaga kerja Indonesia yang mandiri. (Indopos 23 April 2018) tautan id/nKQ

Dari analisa berdasar kira-kira  saya yang kadang ngawur, maka tuntutan no 1 sepertinya tidak akan mudah (tapi bisa) didapatkan mengingat proses revisi UU butuh waktu panjang dan dan terkait erat dengan kekuatan politik yang menghuni Senayan beserta para sponsornya. Peranan gojek sebagai pelengkap sistem transportasi nasional memang selayaknya diperjuangkan. Peraturan kan pada dasarnya dibuat untuk mempermudah dan  mensejahterakan rakyatnya, jadi kalo peraturan yang ada malah membatasi usaha para ojol (yang juga rakyat indonesia) buat naik kelas minimal mendekati kelas menengah (yang katanya ngehe) jawabannya ya peraturan tersebut wajib direvisi. Masalahe wani perih pora? ( wani perih=berani perih ) mengingat pasti bakal ada banyak ganjalan dalam proses revisinya. Pengakuan legal eksistensi, peranan dan fungsi ojol harus dipahami sebagai  perjuangan terkait hak mitra ojol walaupun dalam trawangan saya sebenarnya masih butuh kekompakan yang luar biasa dari mitra ojol untuk menyuarakan pendapatnya termasuk memilih cara yang paling simpatik. Kombinasi ojol dan netizen sepertinya akan sangat efektif seandainya demonstrasi kemarin bisa dikoordinir dengan lebih cantik.

Pengakuan eksistensi ibarat 2 sejoli  yang sudah melewati masa-masa pedekate dan salah satu pihak mulai merasa baper butuh kepastian. Saat rasa sayang mulai membuncah diiringi dengan baper yang pada akhirnya berujung pada tuntutan akan status. Karena rasa sayang dan saling pengertian saja kadang tak cukup, apalagi salah satu pihak merasa sudah cukup banyak berinvestasi dalam hubungan tanpa status tersebut.

Kondisi ini bagi saya mulai menakutkan, selain adanya persaingan antar aplikator saya merasa posisi gojek sebagai aplikator manis penolong jutaan rakyat indonesia juga harus dihadapkan pada pekerjaan rumah besar yaitu mengelola hubungan harmonis dengan para mitra kerja mereka. Perlu ada komunikasi intensif yang mampu menghadirkan win-win solution bagi ketiga belah pihak. Saya sebut ketiga belah pihak karena selain pihak aplikator dan mitra gojek masih ada konsumen sebagai pihak ketiga yang punya hak untuk menentukan mandat ke aplikator mana mereka akan berlabuh. Dengan karakter konsumen kita yang menurut saya sebagian besar masih sangat  sensitif  harga mengharuskan ojol harus bekerja keras mencari skema solusi yang bisa diterima mitra sembari menjalankan strategi perusahaan untuk bisa bertahan dan terus mengembangkan sayap serta mengakomodir kepentingan para pemegang saham/investor sekaligus tetap memenuhi harapan konsumen.

Tuntutan no 2 soal kenaikan tarif/kilometernya juga dilematis bagi ojol, karena disadari selisih harga juga sangat menentukan bagi bisnis transportasi alternatif berbasis online ini. Sebagai konsumen saya saja masih selalu membandingkan harga antara gojek dan grab sebelum memutuskan  akan memesan melalui aplikator yang mana, dan sepertinya banyak dari kita yang akan mengamini ritual ini. Subsidi jelas bukan pilihan utama aplikator karena bakar uang pun ada batasnya. Salah satu aplikator kebanggaan yang juga menjadi salah satu unicorn ( startup yang valuasinya mencapai 1 juta $/ lebih) yaitu Gojek pun menyadari sehingga serius mengembangkan sayap di fitur seperti go-food dan go-send yang dirasa akan lebih sustain dan lebih kompetitif dibanding dengan go-ride yang sangat sensitif harga. Jadi konsumen seperti saya tetap berharap gojek akan mampu menentukan tarif go-ride  di kisaran angka yang tetap ekonomis bagi konsumen apapun metode yang akan dipakai (sekaligus menjaga peluang konsumen untuk tetap bisa ikut naik kelas juga).

Tuntutan no 3 seputar perlindungan hukum dan keadilan bagi ojol sebagai bagian dari tenaga kerja mandiri sepertinya sudah tidak bisa dihindari. Dalam hubungan kemitraan antara aplikator (gojek dan grab) dengan para mitranya sebenarnya sangat manusiawi. Kebutuhan akan perasaan nyaman dan ketenangan dalam melakukan aktifitas pekerjaan menjadi kebutuhan utama. Bagaimana mungkin seorang ayah pergi bekerja pagi buta meninggalkan keluarganya berjuang mencari nafkah tanpa adanya perlindungan hukum dan keadilan?. Dalam hal ini peranan aplikator untuk memfasilitasi tuntutan no 3 sepertinya sangat mudah diwujudkan. Sebagai contoh aplikator, sebut saja gojek yang muncul sebagai penantang dalam bisnis transportasi, mobilitas dan kenyamanan dan kemudahan hidup yang membawa kebaikan bagi jutaan rakyat Indonesia rasanya tak terlalu sulit untuk kembali menegaskan diri untuk bisa hadir melindungi mitra kerjanya secara lebih optimal. Aplikator termasuk Gojek seharusnya sangat memahami kebutuhan ini, mengingat mereka muncul dengan wajah baik dan tentunya tetap berencana untuk mempertahankan imej yang baik pula dalam benak konsumen. Dalam era keterbukaan dan transparansi media sosial segala jenis eksploitasi tentunya akan direspon secara negatif oleh konsumen. Komunikasi adalah kuncinya, baik dengan mitra kerja maupun dengan konsumen, sehingga konsumen bisa dengan nyaman menikmati segala fitur ojol tanpa harus merasa bersalah dan tentunya tetap mendapatkan harga terbaik.

Dalam era disrupsi dimana perubahan bisa berlangsung sangat cepat, kemampuan inovasi dan membaca sinyal-sinyal tren dan kebutuhan konsumen menjadi titik krusial dalam persaingan ojol ini. Gojek menyadari tren jangka panjang tersebut dengan berinvestasi di banyak variasi layanan yang dirasakan bisa menjadi tulang punggung operasional perusahaan di masa yang akan datang. Tantangan mobilitas di Indonesia dan karakter kaum kelas menengah yang ngehe” meminjam istilah yang cukup popular dipakai netizen kita direspon dengan hadirnya layanan hidup dalam genggaman versi gojek. Kelas menengah ngehe’ ini diprediksi akan sangat menentukan trend pemanfaatan ojol termasuk salah satunya adalah kebutuhan mereka akan kenyamanan,kemudahan dan kepraktisan yang kadang kala bikin kita mengernyitkan dahi. Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa kaum kelas menengah ngehe atau bisa kita sebut manja (dan saya mungkin adalah salah satunya) ini membuka ribuan bahkan jutaan peluang baru yang siap disambut oleh mitra gojek se-nusantara.

Siapa yang mengira bahwa hanya dalam jangka waktu sekitar 2 tahun saja sejak 2015 sampai akhir tahun 2017 dimana sudah kurang lebih 2.000.000 porsi martabak yang dipesan melalui fitur go-food di seluruh indonesia? fakta ini sekaligus meneguhkan posisi martabak sebagai camilan no 1 di indonesia disusul ayam geprek dan varian ayam lainnya sebagai menu di posisi kedua dalam daftar antar gofood. Jika dijumlah total kilometer jarak yang diperlukan oleh abang gojek untuk mengantar makanan pesanan kita selama ini ternyata jaraknya mencapai jarak 170 kali perjalanan bumi ke bulan (sumber tim go-food). Bagi bangsa yang selama ini memimpikan adanya anak bangsa yang mampu menjadi astronot rasanya pencapaian tim go-food yang sudah menempuh jarak 170 kali jarak bumi – bulan perlu disyukuri  dan harus kita apresiasi semisal tumpengan, atau sekedar angkringan/wedangan bersama.Suwun.

Diterbitkan oleh

arisk

laki-laki, udah itu aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *