TIK DALAM PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA 2017-bagian 1

Menarik saat sekilas membaca Peraturan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi No 22 Tahun 2016 dengan  jumlah total 65 halaman. Menjadi menarik karena biasanya saya langsung alergi dengan berkas yang sedemikian tebalnya, mungkin tema dan potensi manfaat dari dasar hukum ini yang membuat saya memaksa diri untuk mengalokasikan waktu dan membaca sekilas berharap menemukan beberapa ide terkait  pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam prioritas penggunaan Dana Desa 2017.

Sebelum lanjut menyimak mohon diingat bahwa keseluruhan ini artikel ini hanyalah opini pribadi yang mungkin akan terlihat sangat ringan jauh dari model kajian teoritis atau bahasan para ahli. Opini dalam tulisan ini sekedar hasil dari kombinasi pengalaman bergaul dengan teman-teman perangkat desa dan  membaca  singkat Permendesa No 22 tahun 2016. Apabila dirasa ada yang kurang pas maka saya mohon maaf sebelumnya dan sangat terbuka untuk masukan dan diskusi.

Definisi Pembangunan Desa yang dipakai dalam ketentuan Umum Permendesa No 22  cukup menggembirakan karena  memberikan gambaran prioritas yang berimbang antara peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Pembangunan fisik dan non fisik terlihat memiliki posisi yang seimbang dengan tujuan akhir adalah masyarakat desa yang lebih sejahtera. Pemerintah Desa dituntut menjadi kreatif dan jujur menilai posisi kesejahteraan masyarakat desa saat ini dan cita-cita yang akan dicapai dalam 1,2 atau 6 tahun ke depan.

Peluang pemanfaatan  TIK menjadi bagian alat bantu dalam pencapaian cita-cita Desa menjadi terbuka luas, dan hal ini berlaku bagi setiap tipologi desa baik Desa Sangat Tertinggal, Desa Berkembang, Desa Maju atau bahkan Desa Mandiri. Tingkat pemanfaatan TIK baiknya disesuaikan dengan tujuan tahapan pembangunan masing-masing desa sesuai tipologi masing-masing desa. Bagi Tipologi Desa Sangat Tertinggal dan Desa Tertinggal posisi TIK bisa ditempatkan sebagai alat bantu kelola Sumber Daya Desa. Selain itu TIK bisa dimanfaatakan sebagai alat bantu menanggulangi kemiskinan dengan menyediakan data akurat sebagai modal awal penyusunan prioritas pembangunan Desa. Penanggulangan kemiskinan selaras dengan bunyi pasal 5 mengenai bidang pembangunan apa saja yang menjadi prioritas penggunaan Dana Desa tahun 2017.

Bagi Desa Berkembang   pemanfaatan TIK lebih kepada  alat bantu proses pembelajaran bagi SDM desa agar mampu memanfaatkan dan mengelola sumber daya sosial, ekonomi dan ekologi. Bagi Desa Maju tentunya peran TIK menjadi lebih luas karena kemampuan SDM desa dalam pengelolaan sumber  daya sosial, ekonomi dan ekologi sudah cukup baik sehingga yang perlu dikembangkan adalah kreatifitas SDM Desa untuk melihat peluang yang ada dalam era  perdagangan online/ e-commerce. Dalam tahap ini Desa sebagai kekuatan ekonomi dijital baru bisa  mempunyai kekuatan penuh apabila bersinergi dan berjejaring dengan desa lain dalam prinsip saling menguntungkan.

Pasal 3 membahas mengenai prinsip-prinsip yang dipakai dalam prioritas penggunaan Dana Desa juga sangat menarik terutama  prinsip  Partisipatif. Prinsip Partisipatif  mengutamakan  prakarsa  dan kreatifitas masyarakat bisa dijembatani dengan pemanfaatan TIK seperti website desa yang interaktif dan mampu menjadi ajang bertukar ide, kritik dan saran membangun dari seluruh warga desa termasuk mereka yang tinggal di luar desa bahkan luar pulau. Dalam era internet diaspora desa punya kesempatan sama untuk bersama-sama memajukan desanya dengan ide dan inisiatif positif melalui akun warga virtual. Seperti yang  sudah dilakukan oleh Desa Dermaji di Kabupaten Banyumas yang memberi ruang khusus melalui website http://dermajiku.id dimana diaspora desa bisa ikut berpartisipasi dengan ide, masukan, kritik dan saran membangun bagi kemajuan Desa Dermaji.

Pasal 4 menyebutkan bahwa Prioritas penggunaan Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipublikasikan kepada masyarakat oleh Pemerintah Desa di ruang publik atau ruang yang dapat diakses masyarakat Desa. Ruang publik yang dipilih sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan akses dan budaya warga. Internet dan website desa hanya salah satu alternatif mengingat tingkat literasi warga desa dan jangkauan akses internet yang belum merata, sehingga perlu pertimbangan matang dalam menentukan media publikasi yang paling efektif. Tapi setidaknya semangat transparansi ini selaras dengan karakter internet yang memungkinkan diakses oleh siapa saja dan kapan saja, memutus kendala jarak dan waktu  selama kita terhubung dengan akses internet.

Satu hal yang menarik dari pasal  5 mengenai bidang pembangunan desa yang memasukkan pengadaan, pembangunan, pengembangan  dan pemeliharaan sarana prasarana dasar untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan komunikasi, pendidikan dan kebudayaan termasuk juga proses distribusi dan pemasaran produk desa. Disini peran TIK menjadi sangat penting karena mampu membantu distribusi informasi salah satunya terkait transparansi kinerja Pemerintah Desa. TIK juga bisa dimanfaatkan untuk mendorong partisipasi warga desa dalam proses perencanaan, dan evaluasi program pembangunan desa.

Di sektor pendidikan keberadaan internet membuka banyak peluang model pembelajaran baru. Selain itu internet juga bisa dimanfaatkan untuk membantu proses dokumentasi dan pelestarian budaya desa, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk memanfaatkan budaya lokal sebagai daya tarik utama bagi kunjungan wisata termasuk wisata pendidikan berbasis kearifan lokal. Hal ini sudah dilakukan oleh Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Desa di lereng Gunung Slamet ini membuka peluang masyarakat di luar desa untuk belajar bersama kearifan lokal mereka dalam mengelola Sumber Daya Alam termasuk kelestarian hutannya. Terkait peran TIK dalam proses distribusi dan pemasaran produk, Desa Melung telah memanfaatkan fitur produk desa dalam website mereka sebagai   toko online, bahkan kabar terbaru dari  Pemerintah Desa Melung yang pada tanggal 29 Oktober 2016 baru saja   berhasil meluncurkan satu  marketplace di pasarmelung.id yang dijanjikan mempunyai kualitas bersaing dari sisi keamanan dan kenyamanan belanja serta produk-produk lokal khas yang ditawarkan.

(bersambung ke bagian ke 2)

 

2 pemikiran pada “TIK DALAM PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA 2017-bagian 1”

  1. Terima kasih sudah memberikan warna atas kemendesa no.22 tahun 2016….sangatlah menarik apabila sentuhan TIK bisa hadir didalam penguatan akses informasi masyarakat desa untuk Percepatan pembangunan desa-desa diindonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *